Selasa, 04 Juli 2017

Motif Populer Batik Kawung

Salah satu jenis motif batik yang masih digandrungi hingga sekarang adalah Kawung. Biarpun tidak semua orang mengetahui apa arti Kawung, terutama dalam konteks batik, tapi saya cukup yakin semua pernah melihat bentuk dari motif Kawung pada batik. Motif Kawung sering terlihat sebagai motif yang berulang dengan bentuk yang sangat familiar bagi para pengguna batik. Ternyata, di balik kesederhanaan motif batik Kawung, tersimpan banyak cerita dan sejarah yang menarik. Mari kita tengok bersama apa cerita motif populer ini.

Kita mulai dari bentuk motif Kawung itu sendiri. Apa inspirasi di balik bentuk tersebut? Ternyata, seperti karya-karya hebat yang berasal dari jaman dulu, Kawung mengambil inspirasi dari hal yang tersebar di alam, terutama makhluk hidup. Beberapa orang bilang motif Kawung berasal dari buah pohon aren, namun pendapat lain mengatakan motif Kawung berasal dari bentuk serangga.
batik kawung semar

Buah pohon aren yang dimaksudkan adalah sesuatu yang lazim disebut kolang-kaling. Cerita asal-usul ini dianggap cukup kredibel bagi khalayak. Kolang-kaling yang ditata sedemikian rupa akan membentuk pola simetris segi empat sehingga membentuk sebuah geometri hamparan daun teratai. Ketika pola tersebut tergambar secara berulang, maka kita bisa melihat keindahan yang umum kita amati pada batik-batik hingga dewasa ini.

Versi lain dari cerita asal usul motif ini adalah pola yang berasal dari serangga yang disebut Kwangwung (Orycites rhinoceros), yang berwarna cokelat cerah yang biasa menjadi hama untuk kelapa, terkenal sebagai musuh petani. Bentuk dari kwangwung tersebut dianggap mirip dengan motif Kawung modern. Warna coklat dari kwangwung pun seperti melekat sebagai warna yang banyak terlihat di kemeja batik modern dengan motif Kawung.

Era asal batik Kawung disepakati pada zaman Mataram Baru, yakni pada abad ke-13. Sultan Mataram sendiri yang dianggap menciptakan motif ini, sebagai sosok yang dianggap punya otoritas di jamannya. Pendapat awal ini ditambah dengan penelitian yang dilangsungkan setelahnya, menunjukkan keunikan dan kerumitan tersendiri ke dalam cerita asal usul batik Kawung ini.

Pada candi-candi orang Hindu kuno, sebagai contoh candi Prambanan, ditemukan motif yang dianggap menjadi asal usul Kawung pada salah satu arca Ganesha. Motif tersebut contohnya adalah lereng, ceplok, dan nitik. Jika kita ketahui kronologi pembangunan candi Prambanan yang berasal dari abad ke-9, kita juga bisa mengamati bahwa motif Kawung sendiri, setidaknya versi awal dari Kawung, sudah ada sejak saat itu, jauh sebelum abad ke-13.

Pengguna batik Kawung pada awalnya adalah keluarga kerajaan saja. Motif ini dianggap motif eksklusif yang tidak bisa digunakan oleh masyarakat umum. Motif Kawung, bersama dengan motif lain yakni parang, cemukiran, udan liris, dan lain lain, merupakan motif-motif yang disebut larangan karena penggunaannya yang eksklusif. Sehingga, penggunaan motif ini juga dapat menjadi indikator status sosial pada jaman itu, yakni orang yang dekat dengan kerajaan.

Namun, seiring jaman berlalu, dan setelah berbagai pergolakan politik pada kerajaan Mataram, mulai banyak kalangan lain yang menggunakan motif ini. Seniman mulai menggunakan motif ini, sebagai contoh pada acara pewayangan. Waktu pun berlalu hingga ke masa sekarang. Di masa modern ini, motif Kawung pun bisa ditemukan di berbagai batik dengan pengguna dari berbagai kalangan. Semoga asal usul yang menarik dari batik Kawung ini dapat menginspirasi pembaca untuk mendalami berbagai jenis motif-motif historis batik karya bangsa Indonesia.


0 komentar:

Posting Komentar